Minggu, 24 November 2013

Berbagai Ilustrasi rohani



Judul: Rumah dengan seribu cermin

Dahulu, di suatu desa kecil, ada sebuah tempat yang disebut Rumah dengan 1000 Cermin. Seekor anjing kecil, yang selalu riang, mendengar adanya tempat itu dan ia memutuskan untuk mengunjunginya. Ketika ia tiba, ia melompat-lompat dengan gembira menaiki tangga di rumah itu. Ia melihat sekeliling dengan telinga ditegakkan dan ekornya dikibas-kibaskannya secepat ia bisa. Ia takjub ketika melihat 1000 anjing kecil lain yang berwajah riang dan mengibaskan ekornya secepat ekornya sendiri. Ia tersenyum lebar, dan dijawab dengan 1000 senyuman yang hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, “Ini adalah tempat yang indah, saya akan datang lagi dengan sering.”

Di desa yang sama, ada seekor anjing kecil lain yang tidak seriang anjing yang satu lagi. Ia juga memutuskan untuk mengunjungi rumah itu. Dengan pelahan ia menaiki tangga. Ia muram dan tidak menegakkan kepala ketika ia melihat melalui pintu. Ketika ia melihat 1000 anjing memandangnya dengan tidak bersahabat, ia menggeram dan ia terkejut melihat 1000 anjing kecil itu juga menggeram balik padanya. Setelah ia meninggalkan tempat itu, ia berkata pada dirinya sendiri, “Itu tempat yang tidak menyenangkan, saya tidak akan kesana lagi.”

Semua wajah di dunia ini adalah cermin. Bayangan bagaimana yang Anda harapkan pada wajah orang yang Anda temui?
Judul: Satu tubuh
 
Penasihat hukum seorang yang dituduh mencuri berusaha menyusun pembelaannya dengan suatu cara yang istimewa: "Klien kami hanya memasukkan lengannya melalui jendela untuk mengambil beberapa barang yang sepele. Lengannya bukanlah merupakan dirinya sehingga saya tidak dapat mengerti Yang Mulia dapat menghukum orang ini untuk kesalahan yang dibuat oleh lengannya."
"Suatu pembelaan yang baik", jawab sang hakim. "mengikuti logika anda, aku menghukum lengan orang ini untuk satu tahun lamanya. Terserah kepada orang itu apakah ia ingin menyertai lengannya di dalam penjara atau tidak."

"Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus." (1 Kor 12:12) 
 Judul: Rancanganku bukanlah rancanganMu
Ketika aku masih kecil, waktu itu ibuku sedang menyulam sehelai kain. Aku yang sedang bermain di lantai, melihat ke atas dan bertanya, apa yang ia lakukan. Ia menerangkan bahwa ia sedang menyulam sesuatu di atas sehelai kain. Tetapi aku memberitahu kepadanya, bahwa yang aku lihat dari bawah adalah benang ruwet.


Ibu dengan tersenyum memandangiku dan berkata dengan lembut, "Anakku, lanjutkanlah permainanmu, sementara ibu menyelesaikan sulaman ini, nanti setelah selesai, engkau akan kupanggil dan kududukkan di atas pangkuan ibu dan kamu dapat melihat sulaman ini dari atas".


Aku heran mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian aku mendengar suara ibu memanggil,


"Anakku, mari kesini dan duduklah di pangkuan ibu".


Waktu aku lakukan itu, aku heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Aku hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang aku lihat hanyalah benang-benang yang ruwet.


Kemudian ibu berkata, "Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas engkau dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan".


Sering selama bertahun-tahun, kita melihat ke atas dan bertanya kepada Allah Bapa, "Bapa, apa yang Engkau lakukan?"


Ia menjawab, "Aku sedang menyulam kehidupanmu".


Dan aku membantah, "Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?"


Kemudian Bapak menjawab, "Anakku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu di bumi ini, satu saat nanti aku akan memanggilmu ke surga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu".

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah Firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan". (Yer 29:11) 

Judul: Image Allah Bapa
Suatu hari seorang guru sekolah minggu memberikan tugas kepada murid-muridnya:
Seperti apa Allah Bapa itu? 

"Untuk mudahnya, kalian harus melihat Dia sebagai seorang bapak... seorang papi," ujar guru tersebut. 


Minggu berikutnya, guru tersebut menagih PR dari setiap murid yang ada. 


"Allah Bapa itu seperti Dokter!" ujar seorang anak yang papanya adalah dokter. "Ia sanggup menyembuhkan sakit penyakit seberat apapun!" 


"Allah Bapa itu seperti Guru!" ujar anak yang lain. "Dia selalu mengajarkan kita untuk melakukan yang baik dan benar." 


"Allah Bapa itu seperti Hakim!" ujar seorang anak yang papanya adalah hakim dengan bangga, "Ia adil dan memutuskan segala perkara di bumi." 


"Menurut aku Allah Bapa itu seperti Arsitek. Dia membangun rumah yang indah untuk kita di surga!" ujar seorang anak tidak mau kalah. 


"Allah Bapa itu Raja! Paling tinggi di antara yang lain!!! Allah Bapa itu pokoknya kaya sekali deh! Apa saja yang kita minta Dia punya!" ujar seorang anak konglomerat. 


Guru tersebut tersenyum ketika satu demi satu anak memperkenalkan image Allah Bapa dengan semangat. 


Tetapi ada satu anak yang sedari tadi diam saja dan nampak risih mendengar jawaban anak-anak lain. 


"Eddy, menurut kamu siapa Allah Bapa itu?" ujar ibu guru dengan lembut. 


Ia tahu anak ini tidak seberuntung anak-anak yang lain dalam hal ekonomi, dan cenderung lebih tertutup. Eddy hampir-hampir tidak mengangkat mukanya, dan suaranya begitu pelan waktu menjawab, 


"Ayah saya seorang pemulung... jadi saya pikir... Allah Bapa itu Seorang Pemulung Ulung." 


Ibu guru terkejut bukan main, dan anak-anak lain mulai protes mendengar Allah Bapa disamakan dengan pemulung. 


Eddy mulai ketakutan. 


"Eddy," ujar ibu guru lagi. "Mengapa kamu samakan Allah Bapa dengan pemulung?" 


Untuk pertama kalinya Eddy mengangkat wajahnya dan menatap ke sekeliling sebelum akhirnya menjawab, 


"Karena Ia memungut sampah yang tidak berguna seperti Eddy dan menjadikan Eddy manusia baru, Ia menjadikan Eddy anakNya." 


Memang... bukankah Dia adalah Pemulung Ulung? Dia memungut sampah-sampah seperti saudara dan saya, menjadikan kita anak-anakNya, hidup baru bersama Dia, dan bahkan menjadikan kita pewaris kerajaan Allah. 


Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (yohanes 3:16).
( Sumber: Ilustrasi Rohani ) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar